Pada dasarnya, organisasi mempunyai sifat berusaha memenuhi beberapa jenjang
keteraturan tertentu sehingga dapat bertahan dan mencapai tujuannya. Ini
berarti organisasi harus dapat mengajak anggotanya bersikap dengan cara-cara
yang bermanfaat bagi organisasi. Ini dapat meliputi suatu keteraturan (order)
yang dirundingkan tetapi pengaturan manusialah yang melibatkan pengaturan
kekuasaan. Individu yang bergabung dengan organisasi atau mereka yang
dilahirkan ke dalamnya, mencari manfaat tertentu.
Dengan kata lain, organisasi memiliki tujuan tertentu dan memiliki sifat untuk
selalu dapat memenuhi tujuan tersebut. Usaha-usaha mereka untuk melakukan hal
ini adalah dengan menggunakan kekuasaan.
1.1. Konsep Kekuasaan dan Organisasi
Kekuasaan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi, mengatur, atau mengendalikan dan merupakan bagian yang melekat
pada proses organisasi. Kekuasaan tidak hanya terletak pada manusia dan sumber
daya, tetapi juga dalam struktur sosial itu sendiri.
A.
Gagasan
Kekuasaan
Ada gagasan tradisional mengenai
kekuasaan yang difokuskan pada individu dan pelaksanaan kekuasaannya.
Menurut French dan Raven (1959) membagi lima jenis kekuasaan yaitu :
·
Kekuasaan memberi ganjaran (reward
power)
Dapatkah A menetapkan ganjaran yang
dapat dirasakan oleh B ?
·
Kekuasaan yang memaksa (coercive
power)
Dapatkah A memberi sesuatu yang
dipandang hukuman kepada B ?
·
Kekuasaan yang sah (legitimate power)
Apakah B percaya bahwa A mempunyai hak
untuk mempengaruhi dan B harus menerimanya? Sumber kekuasaan
sah mungkin adalah penerimaan suatu struktur sosial atau nilai-nilai budaya.
·
Kekuasaan referen (referent power)
Apakah B mengenali A? Apakah B ingin
seperti A atau mempunyai keinginan merasakan suatu kesatuan dengan A ?
·
Kekuasaan ahli (expert power)
Apakah B percaya bahwa A memiliki
pengetahuan atau keahlian khusus yang berguna atau perlu untuk kebaikan B ?
Pandangan mutakhir menyadari bahwa
kekuasaan tidak terletak pada manusia semata-mata tetapi dalam struktur sosial
yang memungkinkan mereka bertindak. Ini menyatakan bahwa struktur tersebut,
atau “aturan mainnya” yang terbentuk secara sosial, memutuskan apa yang dapat
dibicarakan dan dengan cara bagaimana. Struktur itu sendiri dapat memutuskan
persoalan apa yang mungkin dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Jadi konsep kekuasaan harus mempertimbangkan apa yang dikatakan dan apa yang
tidak dikatakan berdasarkan pada struktur sosial yang yang memungkinkan
pelaksanaan kekuasaan tersebut. Hal ini disebut “dua wajah kekuasaan”.
Kekuasaan terletak dalam struktur itu
karena ini merupakan daya pengendali pada mereka yang akan melaksanakan
kekuasaan. Individu dapat memliki kemampuan mempengaruhi orang lain berdasarkan
suatu sumber atau posisi khusus, tetapi kekuasaan meliputi lebih daripada
sekadar komoditas atau milik yang dapat digunakan dalam setiap situasi atau
struktur sosial. Kekuasaan terletak dalam hubungan antara manusia dan dalam
sistem sosial itu sendiri.
B.
Interaksi
Organisasi/Kekuasaan
Boulding (1989) membagi tiga jenis
kekuasaan yang efektif dalam mempertahankan organisasi yaitu:
·
Kekuasaan destruktif (menghancurkan)
Merupakan kekuasaan mengancam dan
kemampuan untuk menghancurkan.
·
Kekuasaan produktif (menghasilkan)
Bersifat ekonomik dan meliputi
kekuasaan untuk menghasilkan dan menjual.
·
Kekuasaan integratif (menyatukan)
Mendorong kesetiaan, menyatukan orang-orang
bersama, dan mampu menggerakkan orang-orang ke arah tujuan bersama.
Namun dari ketiga jenis kekuasaan di
atas, yang paling ideal adalah kekuasaan integratif. Boulding menyatakan bahwa
kekuasaan integratif adalah bentuk kekuasaan yang paling dominan dan nyata.
Dalam hal organisasi, fokus kekuasaan terletak pada pengesahan dimana
organisasi hierarkis harus mengandalkan informasi dan dukungan dari seluruh
strukturnya. Pada dasarnya, organisasi mengembangkan struktur dan peranan yang
diciptakan, dipertahankan, dan ditransformasikan melalui proses komunikasi.
Selanjutnya, bahasa struktur dan peranan menggambarkan suatu realitas
organisasi yang memperoleh pengesahan melalui penggunaannya.
1.2. Dinamika Komunikasi Organisasi
A. Komunikasi
sebagai suatu Mekanisme Kekuasaan
Dalam konteks
organisasi, komunikasi digunakan untuk menentukan norma – norma, tujuan, dan
perilaku organisasi. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sarana kekuasaan.
Manusia memiliki kekuasaan melaksanakannya melalui komunikasi, dan dengan
demikian menciptakan tindakan terorganisasi.
B. Komunikasi
sebagai Kekuasaan
Kekuasaan
dalam organisasi dapat dipandang sebagai kapasitas perorangan untuk membuat
perbedaan dalam memproduksi dan mereproduksi struktur (aturan- aturan,
kebijakan, praktik- praktik, dan nilai- nilai). Kekuasaan ini dapat berbentuk
mengajak orang untuk menaati struktur, menolak struktur, atau terlibat dalam
perubahan struktur. Bagian yang paling melekat pada struktur adalah bahasa dan
praktik- praktik diskursifnya yang mencakup pidato/ ceramah, penulisan dan
argumentasi.
1.3.
Komunikasi
dan Proses Pemberian Kekuasaan
Konsep pemberian kekuasaan
atau pemberdayaan (empowerment) memiliki beberapa dimensi. Conger
dan Kanungo menyatakan bahwa pemberdayaan dapat ditinjau dari aspek relasional
dan motivasional.
1. Aspek
relasional menegaskan
kepada masalah pembagian kekuasaan antara manager dan bawahan. Ada usaha untuk
melonggarkan hirarki dan menekankan pemecahan masalah bersama-sama.
2. Aspek
motivasional
merujuk pada kebutuhan hakiki pada suatu
keyakinan dan kemampuan pribadi. Melalui teknik ini, pegawai
merasa memiliki kekuasaan. Jadi memberdayakan dalam arti motivasional di sini
adalah mempercayai kemampuan setiap orang yang mencakup kebutuhan dan hak
setiap orang untuk merasakan bahwa dirinya mampu berprestasi dan efekif.
Diberdayakan dalam organisasi berarti mengetahui argumentasi yang diterima serta cara-cara yang diterima untuk menggunakanya. Dalam hal ini, berarti kita tidak dapat lepas dari praktek komunikasi dalam organisasi meskipun dalam hal ini praktek komunikasi sering diabaikan. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam bahasan pemberdayaan adalah masalah pengenalan kondisi yang membangkitkan perasaan tidak berdaya. Dalam organisasi manusia akan merasa tidak berdaya apabila mereka tidak memiliki akses terhadap informasi yang mempengaruhi pekerjaan dan kesejahteraan mereka. Sebagai contoh struktur birokrasi memiliki kondisi yang mengarah pada rasa tidak berdaya. Ambiguitas peranan, harapan terhadap peranan yang berlebihan serta konflik juga merupakan faktor konstektual yang dapat menciptakan ketidakberdayaan.
1.4.
Kesimpulan
Hubungan kekuasaan muncul dalam setiap
interaksi, tetapi dalam organisasi hubungan ini menjadi lebih menonjol,
terfokus dan hadir dimana-mana. Hal ini berdasarkan pada pengertian
mengorganisasikan yaitu menciptakan hubungan-hubungan kekuasaan yang bergantung
pada komunikasi.
Penelitian atas interaksi sehari-hari
dapat mengungkapkan hubungan kekuasaan yang biasanya tidak terlihat. Hubungan
kekuasaan yang tidak dibuat secara eksplisit merupakan hubungan yang paling
penting. Hal ini benar dalam arti bahwa hubungan kekuasaan dipandang sebagai
“begitu adanya” bila hubungan tersebut akhirnya terlihat. Ini tidak memerlukan
pengawasan atau prosedur pelaksanaan yang mahal. Bila kekuasaan disembunyikan
dalam wacana yang mendukung praktik organisasi, kekuasaan ini nyaris tidak
memperoleh hambatan.
The Tipster's Guide: Tips, Stats, Analysis, Stats - TIT
BalasHapusThe t fal titanium pan Tipster's Guide: Tips, titanium coating Stats, Analysis, Stats. The Tipster's Guide: Tips, Stats, Analysis, Stats. The Tipster's Guide: ford titanium ecosport Tips, titanium banger Stats, Analysis, Stats. The Tipster's Guide: Tips, Stats, titanium scissors Analysis, Stats.